Wisata di Desa Kemawi

Grojogan Klenting Kuning

LEGENDA GROJOGAN KLENTING KUNING DAN OBYEK LAIN DI SEKITARNYA

Oleh: Nurudin, S.Pd
Guru SD Negeri Kemawi Korwilcam Bidang Pendidikan
Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang

1. GROJOGAN KLENTING KUNING
     Pada zaman dahulu yaitu pada masa keemasan Kerajaan Jenggala Kediri tepatnya pada masa pemerintahan Prabu Lembu Amiluhur hiduplah seorang pangeran yang terkenal karena baik budi, kesaktian dan ketampanannya. Pangeran tersebut bernama Raden Panji Inu Kertapati atau nama lainnya Raden Panji Asmoro Bangun yang merupakan Putra Mahkota Kerajaan Jenggala Kediri. Di samping itu Raden Panji juga dikenal karena mempunyai seorang istri yang halus budi bahasanya dan cantik jelita yang bernama Dewi Sekartaji atau Dewi Galuh Candra Kirana. Menurut para pujangga kerajaan yang berilmu, pasangan ini diramalkan kelak akan menurunkan Raja-raja besar di tanah Jawa. Berdasarkan pendapat para pujangga tersebut, ramalan akan terwujud menjadi kenyataan apabila keduanya terlebih dahulu melaksanakan Tapa Ngrame atau melakukan perjalanan/ pengembaraan sambil menolong sesama yang tertimpa kesusahan. Raden Panji Asmoro Bangun mengutarakan niat tersebut kepada sang istri tercintanya. Setelah niat tersebut diutarakan, Dewi Galuh Candra Kirana pun menyetujui niat mulia sang suami. Maka mulailah mereka melakukan rangkaian perjalanan ritual pertapaan/semedi dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa mengenal lelah dan putus asa. Sampai pada suatu saat, mereka tiba di Lereng Gunung Ungungran (Sekarang Gunung Ungaran). Mereka berdua melakukan pertapaan dengan tujuan untuk mensucikan jiwa, pikiran dan hati. Tempat pertapaan mereka tepatnya disebuah terjunan sungai di kaki gunung tersebut. Mereka bersemedi kepada sang pencipta. Di tempat yang sunyi inilah keduanya mendapatkan petunjuk dari sang pencipta melalui raja jin penguasa wilayah Gunung Ungungran yaitu Prabu Kesbamurti. Petunjuk tersebut menjelaskan bahwa mulai saat itu keduanya agar menyamar menjadi rakyat jelata dengan menggunakan nama samaran. Raden Panji Asmoro Bangun diminta mengganti namanya menjadi Ande-ande Lumut sedangkan Dewi Galuh Candra Kirana diminta mengganti nama menjadi Rara Klenting Kuning. Petunjuk raja jin yang selanjutnya adalah agar keduanya berpisah untuk sementara waktu. Raden Panji melanjutkan perjalanan ke arah matahari terbit, sedangkan Dewi Galuh Candra Kirana melanjutkan perjalanan ke arah sebaliknya yaitu menuju ke arah matahari terbenam. Setelah beberapa hari berjalan mereka sampailah mereka di sebuah tempat seorang janda yang mereka temui. Sesuai petunjuk dari raja jin agar mereka ikut hidup dan tinggal bersama janda tersebut. Raden Panji Asmoro Bangun yang telah berganti nama menjadi Ande-ande Lumut agar ikut dan tinggal bersama seorang janda tua yang bernama Mbok Rondo Dadapan. Sedangkan Dewi Galuh Candra Kirana yang telah berganti nama menjadi Rara Klenting Kuning agar ikut dan tinggal bersama seorang janda galak yang bernama Mbok Rondo Limaran. Untuk mengenang sejarah tersebut, maka tempat bertapa/ semedinya Dewi Galuh Candra Kirana ini sekarang dikembangkan menjadi obyek wisata yang oleh masyarakat sekitar diberi nama Grojogan Klenting Kuning, Sedangkan tempat bertapa/semedinya Raden Panji Asmoro Bangun dikenal dengan nama Alas Lumut (dari kata Ande-ande Lumut). Grojogan atau air terjun Klenting Kuning ini memiliki ciri khas berwarna kuning, dan diyakini bagi siapa saja yang mandi di grojogan ini dapat membawa manfaat untuk kesehatan badan, awet muda dan cepat bertemu jodohnya. Mbok Rondo Dadapan meskipun hidupnya miskin tetapi memiliki sifat baik hati dan pemurah. Lain halnya dengan Mbok Rondo Limaran yang sifatnya galak, kikir dan sombong. Mbok Rondo Limaran mempunyai tiga orang anak perempuan yang sudah menginjak usia dewasa yaitu Klenting Ijo, Klenting Abang dan Klenting Biru. Ketiga saudara angkat Klenting Kuning ini juga sering diajak ke Grojogan tersebut, oleh Mbok Rondo Limaran sehingga di sekitar Grojogan Klenting Kuning ini juga terdapat Grojogan Klenting Biru, Grojogan Klenting Ijo dan Grojogan Klenting Abang. Sampai dengan saat ini baru Grojogan Klenting Kuning dan Grojogan Klenting Biru yang sudah tertata rapi, sedangkan dua grojogan lainnya masih dalam tahap perintisan jalan.

2. SENDANG KALI TELON
     Di sebelah Barat Grojogan Klenting Kuning terdapat pertemuan 3 sungai yang berasal dari 3 mata air yang masyarakat menyebut tempat tersebut SENDANG KALI TELON. Di tempat tersebut sejak jaman dahulu sering dipergunakan untuk tempat tirakat (ritual bertapa dengan cara berendam/kungkum). Sebagian ahli kebatinan mengatakan bahwa di tempat tersebut mengandung aura/energi positif yang dipercaya segala do’a dan keinginannya mudah dikabulkan. Karena biasanya di tempat pertemuan beberapa mata air mengandung aura yang besar sebagai jalan menuju terkabulnya segala cita-cita. Para ahli ritual juga meyakini bahwa tempat tersebut juga merupakan salah satu pintu gerbang menuju ke dimensi alam lain yaitu kerajaan gaib Gunung Ungrungan/Ungaran yang dipimpin seorang raja bernama Prabu Kesbamurti. (Babat Tanah Jawa keluaran Keraton Surakarta Hadiningrat yang terbit dalam bentuk Tembang Sinom menyebutkan bahwa Prabu Kesbamurti merupakan salah satu Raja Jin besar yang ada Tanah Jawa).

3. MBEL / LUMPUR HISAB KUNING
     Masih di sekitar Grojogan Klenting Kuning, tepatnya di sebelah Timur terdapat MBEL yang dalam Bahasa Indonesia berarti lumpur hisap yang berwarna kuning. Dimana pada jaman dahulu tempat yang merupakan posisi Dewi Candra Kirana menerima wangsit agar berganti nama menjadi Klenting Kuning ini merupakan lumpur hidup yang berbahaya karena jika ada hewan atau manusia terperosok akan tersedot kedalam pusat lumpur yang dalam. Pada saat ini lumpur kuning tersebut sebagian telah mengering dan daya hisapnya juga sudah hilang sehingga tidak membahayakan bagi manusia ataupun binatang. Aliran lumpur dari Mbel tersebutlah yang mengalir ke dalam sungai sehingga air terjun dibawahnya berwarna kuning seperti sekarang ini yang menambah eksotik dan kekhasan wisata alam Grojogan Klenting Kuning. Bagi yang percaya lunpur hisap ini juga diyakini mampu membuka aura keberuntungan, kecantikan dan kewibawaan seseorang yang menziarahinya.

4. TUK LANANG
     Tidak terlalu jauh dari obyek wisata ini terdapat mata air yang berair sangat jernih bernama Tuk Lanang. Di tempat ini konon Klenting Kuning mendapatkan pusaka atau senjata sakti yang bernama Sodo Lanang yang kelak bisa dipergunakan untuk mengatasi segala gangguan dan bahaya selama dalam perjalanannya. Pusaka inilah yang dipergunakan untuk menaklukkan Yuyu Kangkang yang sering menggangu perjalanan orang yang akan menyeberangi sungai. Saat ini keberadaan Tuk Lanang dipergunakan untuk penyediaan kebutuhan Air Bersih bagi penduduk Desa Kemawi. Sementara bagi yang percaya pula bahwa barang siapa yang meminum langsung air pada lokasi mata air Tuk Lanang ini dapat membuat seseorang menjadi sehat, kuat dan menaikkan keperkasaan lelaki.

Flora di Sekitar Grojogan Klenting Kuning​

Bunga Terompet

Pakis Gajah

Cassinia Trinerva

Pohon Cemara

Pohon Cinta

Sri Gading

Scindapsus

Syngonium

Heliconia

Dypsis

Tithonia Difersivolia

Hibiscus Tiliaceus

Cordyline Fruticosa

Scroll to Top